CERITA FOUNDER

Gw bangun Valoo
dari reruntuhan hidup gw sendiri.

Ini bukan cerita startup. Ini cerita satu orang yang kehilangan segalanya karena mengejar penghasilan tanpa peta β€” lalu membangun peta yang dulu dia butuhkan.

Empat puluh dua persen korban pinjaman online di Indonesia adalah guru.

42%korban pinjaman online adalah guru
52,01%borrower bermasalah berusia 19–34 tahun
49nyawa melayang dari 73 upaya bunuh diri

Baca sekali lagi. Guru. Orang yang tiap pagi berdiri di depan kelas untuk mencerdaskan anak bangsa β€” dan pulangnya menghitung sisa hari sebelum debt collector datang lagi. Yang seharusnya memikirkan masa depan muridnya, malah memikirkan nomor asing yang menelepon tanpa berhenti.

Dan ini bukan cuma soal guru. Data OJK mencatat 52,01% dari total borrower bermasalah ada di usia 19–34 tahun β€” Gen Z dan Milenial. Bukan orang yang malas berusaha. Justru orang yang paling keras berusaha, di usia yang paling penuh niat.

Yang paling berat: wabah ini memakan nyawa. Tujuh puluh tiga kasus upaya bunuh diri (termasuk Gw), dan 49 di antaranya tidak selamat β€” karena ancaman dan pencemaran nama baik yang disebarkan penagih utang ke seluruh kontak di HP korban.

Mereka bukan orang yang kurang berusaha. Mereka orang yang sudah membayar harganya duluan β€” dengan kerja keras β€” tanpa pernah dikasih petanya.

Buat gw, ini bukan data. Ini hidup gw.

Lulus kuliah, gw habiskan enam tahun hanya untuk mencari satu jawaban: sebenarnya gw ini harus ngapain?

Lalu gw ambil keputusan yang gw kira paling agresif dan paling benar β€” naikkan penghasilan sekuat tenaga. Empat tahun berikutnya gw paksakan empat jalur sekaligus: kerja kantoran, freelance, trading saham, dan bisnis.

Dari empat tahun itu gw dapat lebih dari 2 miliar rupiah. Lalu gw kehilangan 4 miliar.

Gw keluar dari situ bangkrut total dan tercekik utang. Gw tinggalkan ibu kota, pulang ke kampung, tinggal bareng ibu gw. Lebih dari sepuluh tahun perjalanan hidup, habis untuk mencari β€” dan hasilnya benar-benar tidak ada.

Persis dua kali lipat dari yang gw kumpulkan sampai berdarah-darah.

Dan ini bukan cerita gw doang. Ini cerita Indonesia.

53%pekerja bergaji di bawah UMR
57%Gen Z mengejar lebih dari satu jalur penghasilan
139,67 Trupiah lenyap karena keputusan finansial yang buta
40%Gen Z & Milenial merasa tidak aman secara finansial

Diulang jutaan kali. Mereka mengikuti beragam cara yang lewat di sosial media. Tanpa ilmu, tanpa dampingan β€” dan sering kali kerja kerasnya berakhir sia-sia.

Yang paling berbahaya bukan kerugian finansialnya. Tapi mental block yang pelan-pelan mendikte: takdir lo memang cuma begini-begini aja, berhenti aja berjuang. Dan kadang, seperti 49 orang tadi, sampai berhenti hidup. Indonesia pun kehilangan generasi emasnya. Satu per satu, diam-diam.

Angkanya ada, dan dia bukan anekdot. 53% pekerja bergaji di bawah UMR β€” sementara inflasi naik dua kali lebih cepat daripada kenaikan upah. Menyadari itu, 57% Gen Z mulai mengejar lebih dari satu jalur penghasilan. Tapi tanpa kerangka yang jelas, keresahan itu justru jadi lahan panen: 139,67 triliun rupiah lenyap karena keputusan finansial yang buta.

Ini bukan orang-orang yang kurang usaha. Ini orang-orang yang usahanya tidak pernah dikasih arah.

Gw sarjana psikologi, dan bertahun-tahun kerja sebagai business consultant.

Lalu bisnis gw sendiri bangkrut β€” dan gw mendapati diri gw benar-benar buta arah: habis ini, gw harus cari penghasilan lewat jalan yang mana?

Kalau orang dengan pendidikan seperti gw saja bisa sekacau itu soal penghasilannya sendiri, orang biasa mungkin akan lebih kesusahan. Di situlah gw melihat: gw tau ilmunya, gw paham alat ukurnya, dan gw sendiri masih jadi kasusnya. Gw berfikir.

Duduk di atas reruntuhan itu, gw menanyakan satu hal ke diri gw sendiri: gimana kalau dari dulu ada panduan yang benar-benar nyambung dengan potensi terdalam kita dan keterbatasan kita yang sebenarnya β€” sekaligus tahu kenapa kita jalan di tempat?

Jadi di sinilah gw sekarang, membangun Valoo. Valoo dibangun untuk membantu lo menaikkan penghasilan lo dan/atau membuka jalur penghasilan baru, sekaligus menaikkan nilai diri lo β€” lewat cara yang paling cocok dengan lo. Jadi sobat yang nemenin lo berprogress sekaligus bantuin lo liat peta β€” kompas keuangan lo, di HP lo.

Yang membangun obatnya adalah pasien pertamanya.

Gw mulai sejauh yang nol rupiah izinkan.

15alamat email supaya trial gratisnya jalan terus
5Tools gratisan yang belum pernah gw tau
4 jamtidur sehari, selama berbulan-bulan

Gw mulai dari trial gratis Gemini β€” waktu itu namanya bahkan belum Valoo, masih Hidden Gold/Gem, dengan konsep kompas harta karun. Lalu gw pakai 15 alamat email berbeda supaya bisa terus bekerja di jalur trial gratis. Lima belas email, untuk hampir lima tools sekaligus. Baru dua bulan terakhir gw memberanikan diri menaikkan bujet bulanan jadi $20 β€” dan itu pun gw ngos-ngosan mempertahankannya.

Hampir tiga bulan, sendirian, dan tidak full-time. Gw mau jujur soal yang terakhir itu. Gw masih menjalankan bisnis online kecil-kecilan dan mengambil kerjaan freelance, karena itu yang memberi makan keluarga gw. Dan gw membagi waktu dengan istri urusan mengasuh empat anak kami, begitu juga berkebun, dan beberes rumah.

Valoo kebagian enam jam sehari, dan dari situ mungkin hanya dua sampai empat jam yang benar-benar bisa konsentrasi. Setiap dua minggu, gw ambil libur satu hari.

Bulan-bulan pertama lebih parah dari itu, dan alasannya spesifik: gw membangun Valoo di atas tools gratisan β€” yang jatahnya reset per hitungan jam. Jadi gw pasang alarm setiap lima jam, siang dan malam, supaya tiap jendela yang terbuka langsung gw pakai detik itu juga. Termasuk lewat tengah malam. Tidur gw terpotong-potong. Totalnya sekitar empat jam sehari, selama berbulan-bulan.

Gw tidak mau meromantisasi itu, dan gw sudah tidak bekerja seperti itu sekarang. Cara itu tidak berkelanjutan dan itu bukan kepintaran β€” itu satu-satunya β€œcara bodoh” yang gw punya waktu itu.

Yang menahan Valoo sekarang bukan usaha. Uang.

Hari ini rancangan sainsnya sudah didaftarkan dan ber-stempel waktu di registry riset publik, produknya sudah jalan dalam bentuk MVP Light, dan mesin algoritmanya siap dijalankan.

Temboknya berdiri di tempat yang sangat konkret: domain, hosting, tools berbayar, dan biaya pilot validasi. Supaya Valoo bisa terus melangkah, dia butuh setidaknya 10.000 user.

Sekarang gw bekerja sebagai freelancer di platform. Dalam beberapa bulan terakhir gw hanya mendapat dua klien, tapi karena gw tinggal di kampung, berkebun masih bisa menyambung hidup. Ada minggu di mana gw cuma sanggup membeli paket internet harian yang paling murah β€” sekitar satu dolar per tiga hari β€” supaya bisa terus bekerja.

Pre-order lo tidak akan membuat hidup gw nyaman. Dia membuat gw bisa menutup satu langkah konkret yang sedang ditahan oleh uang (tools berbayar) β€” bukan oleh usaha.

Gw tahu, semuanya kelihatan mustahil.

Gw cuma tahu dua hal: taruh mimpimu di bintang utara, lalu terus melangkah kecil hingga sukses. Dan itu persis yang Valoo lakukan untuk lo β€” dia menghitung siapa lo dan apa yang sudah lo pegang hari ini, memilih satu jalur yang memang punya lo, lalu jalan bareng lo selangkah sehari. Kalau cerita di atas terasa seperti cerita lo, langkah kecil lo ada tepat di bawah ini.

Bantu Valoo Berbuat Baik

Penghasilan naik berkat diri lo sendiri.